Entah harus dari mana aku ceritakannya,
semua itu membuat aku bingung. Kau datang kembali disaat semuanya telah
baik-baik saja, aku tak mampu mengartikan semua ini. Mungkinkah aku terlalu
bodoh? Atau mungkin aku terlalu baik untuk menerima kebodohan ini? Karena, ku
tak mampu tuk mengerti maksud mu.
Begitu mudahnya kau katakan, begitu
mudahnya pula kau ingkari demi kesenangan mu sesaat dan begitu mudahnya untuk
diriku mampu mempercayai semua omong kosongmu itu. Tak pernahkah kau sedikitpun
memikirkan perasaan ku ataupun perasaan dia jikalau dia tau semua pesan singkat
darimu suatu malam itu? Aku tak ingin bermuna, kalau aku ingin kembali denganmu
menjalani semuanya yang telah lama sirna dari pandangan kita seperti dulu. Tapi, aku takut jikalau kau mampu menyakiti
ku untuk kedua kalinya.
Taukah kamu? Setiap kali aku bercerita
kepada mereka (pendengar setiaku), sahabatku selalu sajah mengingatkan aku
tentang luka itu. Saat kau meninggalkan ku tanpa alasan, tanpa kata dan tanpa
bicara.
Entah perasaan apa yang saati ini
menderaku? Aku tak dapat memahaminya. Akupun tak dapat memberikan sebuah
alasan. Semua itu terjadi tanpa pernah ku memintanya. Jujur ku akui, aku tak
menyayangi mu sama sekali. Tapi entah kenapa setiap kali aku mengingat semua
kenangan itu, mampu menghipnotis ku untuk dapat merindumu dan tanpa tersadari
air mata ini terjatuh perlahan.
Mengapa kau datang disaat semuanya
telah sirna? Bisakah kau menghilang dari semua pikiran ku sampai aku bosan? Aku
taku mau membayangkanmu walau itu hanya sesaat. Sudah untuk aku mengenalmu
menjadi seorang yang dulu pernah bersamaku menjalani kisah kasih berdua. Aku
hanya ingin mengenalmu sebagai seseorang teman dan tak lebih.
Aku akan berjuang untuk bisa bangkit
dan berhenti mengaharapkan yang tak mampu diharapkan lagi. Karna semua itu
adalah sebuah titik semu yang tak berujung. Aku mau masa depan, tapi bukan
kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar